- Jangan gunakan tripod, untuk mengikuti arah gerakan obyek kamera harus bisa bergerak luwes
- Set kamera pada mode Shutter Priority (S atau Tv)
- Shutter speed yang digunakan untuk panning adalah antara 1/30 sampai dengan 1/8, jadi set kamera diantara angka tersebut
- Cari obyek bergerak yang akan dipanning (tips: pilihlah background yang berwarna-warni untuk panning sehingga hasil blur dari background makin menarik)
- Arahkan kamera mengikuti obyek yang bergerak dan pencet separuh tombol release untuk mengambil fokus.
- Usahakan tangan bergerak selembut mungkin, gerakan kejut yang mendadak bisa mengakibatkan hasil foto yang tidak menarik
- Saat tangan kita sudah ‘seirama’ dengan gerakan obyek, pencet tombol release untuk mengambil eksposur
- Makin banyak berlatih, tangan dan mata kita akan semakin terasah!
Tips Memotret Panning
Jumat, 25 Maret 2011
Diposting oleh
Arina Dini
di
01.24
0
komentar
Tips Pemakaian Lampu Kilat
Kamis, 17 Maret 2011

Lampu kilat yang kita bahas bersifat umum, bisa yang berjenis built-in (menyatu pada kamera) maupun lampu kilat eksternal. Lampu kilat built-in banyak dijumpai di kamera ponsel kelas atas, semua kamera saku dan sebagian besar kamera DSLR. Fungsinya jelas, sebagai sumber cahaya tambahan yang menerangi objek di depan kamera saat tombol rana ditekan. Kekuatan lampu kilat diukur dengan istilah GN (Guide Number) yang menggambarkan kemampuan menerangi objek dalam jarak tertentu, dalam satuan meter. Lampu kilat modern sudah mendukung teknologi TTL yang bisa diatur kekuatannya sesuai jarak objek ke kamera, sehingga resiko terlalu terang atau terlalu gelap bisa dihindarkan.
Contoh pemakaian Fill-in Flash
- saat objek dibawah bayangan matahari (fill-in flash)
- saat objek dibalik sinar terang (backlight compensation flash)
- saat gelap dan kita tidak punya sumber cahaya lain
- jarak tembak lampu kilat terbatas sehingga jagalah jarak optimal antara kamera dengan objek
- lampu kilat memerlukan waktu untuk mengisi kapasitor sehingga ada waktu tunggu(jeda) antar foto sekitar 4-7 detik, hindari memakai lampu kilat bila anda sering mengambil banyak foto dalam waktu singkat
- bila ada mode “red-eye flash” di kamera anda, sebaiknya tidak usah dipakai karena kurang efektif dan lebih menguras baterai (karena lampu akan menyala dua kali)
- hindari menembakkan lampu kilat pada bayi karena beresiko mengganggu penglihatannya kelak
- bila pada kamera anda ada fasilitas pengaturan power output manual, tidak ada salahnya dicoba untuk mengetahui karakter output lampu dari power terendah sampai tertinggi
- bila lampu kilat pada kamera anda sudah berteknologi TTL, bila hasil foto dengan lampu masih belum memuaskan bisa dikompensasi dengan ‘flash compensation‘
- bila anda memakai lampu kilat eksternal, upayakan untuk memaksimalkan semua fungsi lampu tersebut dengan mencoba teknik bouncing, memakai fill-in reflektor dan memakai diffuser
Diposting oleh
Arina Dini
di
22.58
0
komentar
Camera Tossing
![[Image: a+proper+camera+toss.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj27ywnDJMGU4JUXlndGQf0lojyEWSeC23UUDI8CG53zdaOBrMw7rxppwCLW7t0TER_vaE-LechEADzCvd5NJSGbsk6Vi4g5MrdJXqA4pJz5S-RVceKgs9I71gFu_VsZGbRYF-QPDRHoHJX/+proper+camera+toss.jpg)
Camera Tossing – Bermain-main dengan kamera memang menyenangkan. Membidik suatu objek, fokus, dan click. Semudah itu. Cara klasik tersebut memang telah banyak digunakan oleh banyak fotografer, baik yang profesional maupun yang “super” amatir sekalipun. Rupanya Ryan Gallagher, seorang fotografer amatir berusia 28 tahun dari Texas, sudah mulai bosan dengan teknik lama tersebut. Mulailah dia bereksperimen dengan caranya sendiri, yaitu dengan MEMOTRET SAMBIL MELEMPARKAN KAMERANYA KE UDARA!, yep! ke udara…
Apa yang didapat? sebuah fenomena teknik fotografi terbaru, yang disebut, Camera Tossing!
Apa itu Camera Tossing? Apa hasilnya? Bagaimana cara melakukannya?
Kita bahas perkembangan teknik penggunaan kamera digital yang paling asik itu disini!
Apa itu Camera Tossing ?
Camera Tossing adalah teknik fotografi kinetik, menggabungkan jumlah exposure yang disediakan oleh format kamera digital dengan prinsip Lomography, shoot-firts-ask-question-later, dengan cara melemparkan kamera ke udara dan membiarkan kamera tersebut mengambil gambar ketika berputar di udara. Serunya lagi, eksperimen-eksperimen yang dapat dilakukan tidak ada batasannya! Tergantung kreatifitas si pemotret, mau dilempar sambil bediri, jongkok, kayang, kuda-kuda pencak silat ataupun teknik lempar jumrah sekalipun terserah…asal jangan lupa nangkep lagi…
Who’s the first doin’ it professionally?
Pada suatu malam, 20 Agustus 2005, seorang Theater Production dari Texas, Ryan Gallagher, mencoba bermain dengan kreatifitas dan kamera butut murahannya, memotret lampu-lampu jalanan dan ketika doi (ceile.. bahasanya mas Boy banget dah) udah mulai bosen sama teknik yang itu-itu aja, akhirnya dia coba dengan memotret sambil melemparkan kameranya di udara. Hasilnya? sebuah teknik fotografi yang fenomenal tercipta…
Caranya gimana, Om?
Caranya, ada deh….(ngga..ngga..bisa-bisa gua dipecat), pertama lo setting aja exposure kamera digital lo ke settingan yang lebih lama (kalo ngga ngerti cara settingnya, lo baca aja manual ato ngga lo setting cameranya ke night), trus lo pencet tombol shutter-nya, dan lempar deh kamera digital jelek-butut-mahal-ribet lo itu ke udara, terakhir…TANGKEP! Segampang naek angkot yang lagi ngetem kan? Untuk permulaan motret aja dulu di ruangan tertutup dan usahakan berada di deket-deket bantal atau barang empuk laennya termasuk temen lo yang over-weight. kalo udah jago nangkep, baru deh pergi ke luar..cari objek-objek lampu-lampu yang menarik, lebih bagus kalo objek itu berupa rope-lights, atau kalo lo mau praktekin di tempat-tempat disko terdekat (termasuk Asmoro) yang memiliki berbagai macam cahaya yang keren.
Beberapa tosser (sebutan buat para pengguna teknik ini) memakai tali yang diikat pada kameranya atau tali yo-yo untuk memudahkan mereka menangkap kameranya kembali. Men-tossing sampai ketinggian 3 kaki (± 90 cm) merupakan permulaan yang baik bagi pemula, bahkan ada yang melempar sampe ketinggian 20 kaki (itung aja sendiri berapa meter). Enaknya lagi kegiatan ini bisa lo lakuin di mana aja, kapan aja,dan lo gak akan dapet hasil yang sama!
Jadi..cuman kamera digital aja yang bisa? Kamera mahal yang bokap gue beliin di Jerman ga bisa? (tanya seorang anak sma swasta jakarta utara berpakaian atas bawah baju distro, dan kalung metal berbentuk kuku Bima)
Oh, wahai anak belagu yang sangat tidak kekinian…, maksud lo kamera pretelan? tentu saja kamera yang dibelikan papi-mu itu bisa digunakan untuk Camera Tossing, asalkan lo pretelin dulu segala tetek bengek-nya…Dan setelah itu di-setting sesuai yang tadi sudah dibilang sebelumnya. Sebenarnya sekarang udah ada kamera tossing keluaran Satugo, berbentuk bola berwarna merah, yang dijual seharga $ 69, gak mahal-mahal amat bukan?
Sebenernya apa sih kelebihannya Camera Tossing?
Kelebihannya banyak. Lo bisa melatih kreatifitas lo, tidak terbatas! Bahkan karya-karya para tosser-tosser level tinggi udah di pamerin di Berlin dan Hamburg. Maka dari itu, dari sekarang setting kamera digital murah-butut-mahal-ribet mu, dan lempar tinggi-tinggi ke udara!
Diposting oleh
Arina Dini
di
22.50
0
komentar
Melukis Dengan Cahaya
Kamis, 10 Maret 2011
Kemajuan kamera, membawa kita menembus batas kreativitas. salah satunya adalah, lahirnya teknik melukis dengan cahaya, seperti halnya menggambar di atas kertas. namun perbedaanya adalah pada media yang digunakan. melukis dengan cahaya adalah sebuah teknik yang menggunakan kamera sebagai alat untuk mereproduksi atau merekam cahaya, yang nantinya adalah memadukan titik-titik cahaya menjadi sebuah gambar yang artistik.

Alat yang butuhkan adalah:
1. Kamera SLR/DSLR

2. Tripod (Penyangga Kaki Tiga)


Contoh :


Diposting oleh
Arina Dini
di
18.12
0
komentar
Bokeh Effect
- Lensa prime 50mm/1.8 (Satu lensa aperture besar F1.8 Canon 50mm, atau Nikon 50mm 1,8 atauNikon50mm 1.4 akan bekerja lebih baik)
- Kertas Karton hitam/ Linen hitam (tergantung pemakai)
Instruksi:
- Potonglah kertas karton sehingga menyerupai lens hood (sesuai dengan diameter lensa yang dipakai). Potong kertas sesuai dengan bentuk bagian depan lensa
- Buatlah bentuk sesuka anda di tengah filter (saran saya pakailah hole puncher dengan blade yang bervariasi). Setelah di ukur dan di potong, buatlah bentuk yang menarik untuk melubangi tepat bagian kertas linen hitam tersebut, seperti bintang, bentuk hati, dan lain-lain sesuai explorasi anda.
- Set exposure pada bukaan terbesar (f/1.8)
Selanjutnya:
- Melalui jendela bidik. Pada 50mm lens@F1.8 hati 15mm memberikan nilai metering sebesar F3.2,sehingga mungkin bisa menjadi sedikit lebih besar pada kebutuhannya nanti.
- Tetapkan nilai aperture kamera ke titik terendah (benar-benar terbuka).
* "Lens hood" Diameter: 70mm (2,75 inci)
* Hole Diameter: 15mm (0.6inch)

joy_sale - potret malam |
| JoshuaRaymund - bokeh bentuk bintang . Beberapa cara lain membuat bokeh adalah: 1. Gunakan lensa telefoto Dari jarak yang sama, lensa wide akan menghasilkan Depth Of Field alias ruang tajam yang luas dan tentunya juga bokeh yang sedikit. Kebalikannya, dengan menggunakan lensa tele (lensa dengan panjang fokal di atas 70mm termasuk tele) akan menghasilkan DOF yang sempit, dan bidang bokeh yang lebih banyak. 2. Mendekat ke objek Semakin dekat kita ke objek (jangan lupa perhatikan jarak minimum fokus lensa yang digunakan karena bila melebihi jarak fokus minimum maka objek utama tak akan fokus), maka semakin sempit pula ruang tajam 3. Atur diafragma Diafragma alias f number alias aperture, adalah salah satu komponen terbesar yang mempengaruhi penampilan Bokeh dan kedalaman ruang tajam suatu gambar. Angka diaframa kecil (menunjukkan bukaan yang besar) akan membuat objek utama fokus sementara yang lainnya blur. Kebalikannya, angka diafragma besar (menunjukkan bukaan yang kecil) akan membuat ruang tajam lebih luas. 4. Ukuran sensor gambar Makin kecil sensor gambar kamera Anda, maka akan semakin besar ruang tajamnya. Perbandingan ini tentu saja dengan jarak kamera ke objek yang sama, panjang fokal yang sama dan angka diafragma yang sama |
Diposting oleh
Arina Dini
di
17.47
0
komentar
Teori Dasar Fotografi Kombinasi antara Diagfragma, Speed dan ISO
catatan : Jika menggunakan ISO tinggi jangan lupakan efek samping yang akan timbul, yaitu noise, semakin tinggi ISO, maka noise akan semakin terlihat.
Diposting oleh
Arina Dini
di
17.32
0
komentar
Kamera Lensa Fisheye
Kamera lensa fisheye. Cakupan pandangan 170 derajat. Hasil foto berbentuk bulat seperti mata ikan.
Kamera FISHEYE ada 2 jenis, yang tipe pertama atau sering disebut fisheye1, dana tipe kedua atau sering disebut fisheye2. Beda dari 2 tipe ini adalah, yang tipe kedua viewfindernya sudah cembung, jadi kita dapat tahu bagaimana hasil gambarnya. Dan juga sudah dibekali dengan mode Bulb dan Multiple Exposure.
Diposting oleh
Arina Dini
di
05.08
0
komentar
Belajar Memahami Fotografi Pre Wedding
Rabu, 09 Maret 2011

Diposting oleh
Arina Dini
di
23.54
0
komentar
Teknik Dasar Fotografi
Teknik-teknik dasar pemotretan adalah suatu hal yang harus dikuasai agar dapat menghasilkan foto yang baik. Kriteria foto yang baik sebenarnya berbeda-beda bagi setiap orang, namun ada sebuah kesamaan pendapat yang dapat dijadikan acuan. Foto yang baik memiliki ketajaman gambar (fokus) dan pencahayaan (eksposure) yang tepat.A. FOKUS
Hal paling penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pemotretan adalah unsur pencahayaan. Pencahayaan adalah proses dicahayainya film yang ada dikamera. Dalam hal ini, cahaya yang diterima objek harus cukup sehingga dapat terekam dalam film. Proses pencahayaan (exposure) menyangkut perpaduan beberapa hal, yaitu besarnya bukaan diafragma, kecepatan rana dan kepekaan film (ISO). Ketiga hal tersebut menentukan keberhasilan fotografer dalam mendapatkan film yang tercahayai normal, yaitu cahaya yang masuk ke film sesuai dengan yang dibutuhkan objek, tidak kelebihan cahaya (over exposed) atau kekurangan cahaya (under exposed).
Diafragma berfungsi sebagai jendela pada lensa yang mengendalikan sedikit atau banyaknya cahaya melewati lensa. Ukuran besar bukaan diafragma dilambangkan dengan f/angka. Angka-angka ini tertera pada lensa : 1,4 ; 2 ; 2,8 ; 4 ; 5,6 ; 8 ; 11 ; 16 ; 22 ; dst. Penulisan diafragma ialah f/1,4 atau f/22. Angka-angka tersebut menunjukkan besar kecilnya bukaan diafragma pada lensa. Bukaan diafragma digunakan untuk menentukan intensitas cahaya yang masuk.
“Semakin besar f/angka, semakin kecil bukaan diafragma, sehingga cahaya yang masuk semakin sedikit. Sebaliknya, semakin kecil f/angka semakin lebar bukaan diafragmanya sehingga cahaya yang masuk semakin banyak.”
Kecepatan rana ialah cepat atau lambatnya rana bekerja membuka lalu menutup kembali. Shutter speed mengendalikan lama cahaya mengenai film. Cara kerja rana seperti jendela. Rana berada di depan bidang film dan selalu tertutup jika shutter release tidak ditekan, untuk melindungi bidang film dari cahaya. Saat shutter release ditekan, maka rana aka membuka dan menutup kembali sehingga cahaya dapat masuk dan menyinari film.
Ukuran kecepatan rana dihitung dalam satuan per detik, yaitu: 1 ; 2 ; 4 ; 8 ; 15 ; 30 ; 60 ; 125 ; 250 ; 500 ; 1000 ; 2000 ; dan B. .Angka 1 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/1 detik. Angka 2000 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/2000 detik, dst. B (Bulb) berarti kecepatan tanpa batas waktu (rana membuka selama shutter release ditekan)
Makin kecil satuan film (semakin rendah ISO), maka film kurang peka cahaya sehingga makin banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut, sebaliknya semakin tinggi ISO maka film semakin peka cahaya sehingga makin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut. Misal, ASA 100 lebih banyak membutuhkan cahaya daripada ASA 400
Diposting oleh
Arina Dini
di
23.42
0
komentar
Tips Memfoto Yang Baik
Selasa, 08 Maret 2011
tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
- Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian
- Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan
- Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut pemotretan supaya elemen tersebut hilang
- Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya adalah foto yang tanpa background sama sekali
- Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto
- Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting obyek terpotong tanpa alasan kuat
- Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu memotret dari depan subyek
- Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya
- Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto
- Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. Taruh obyek utama disana
- Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan obyek utama. Baca lebih jauh tentang background disini.
- Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat kesan tinggi
- Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan
- Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan
- Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat
- Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka
Diposting oleh
Arina Dini
di
01.14
0
komentar
